Khutbah Idul Fitri 1447 H: Zakat dan Sedekah: Dua Sayap Kemajuan Umat

Mohammad Nor Ichwan

[KHUTBAH PERTAMA]

اَللَّهُ أَكْبَرُ ٩× لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ، اَللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَتَمَّ لَنَا الصِّيَامَ، وَيَسَّرَ لَنَا الْقِيَامَ، وَشَرَعَ لَنَا الزَّكَاةَ وَالْإِحْسَانَ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ

فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

Ma’asyiral Muslimin, jamaah shalat Idul Fitri yang dimuliakan Allah,

Puji syukur ke hadirat Allah SWT, yang telah mempertemukan kita kembali dengan hari kemenangan, Idul Fitri 1447 Hijriah. Setelah sebulan penuh kita berpuasa, menahan lapar dan dahaga, serta mendidik jiwa, hari ini kita rayakan kemenangan itu dengan bertakbir, bertahmid, dan bertahlil.

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, para sahabat, dan seluruh umatnya yang setia mengikuti sunnahnya hingga akhir zaman.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Hari raya Idul Fitri bukan sekadar hari bersuka ria. Ia adalah momentum untuk kembali kepada fitrah—kesucian. Dan salah satu puncak ibadah di bulan Ramadhan yang mengantarkan kita pada kesucian itu adalah zakat fitrah. Zakat inilah yang membersihkan orang yang berpuasa dari perbuatan sia-sia dan kata-kata kotor, sekaligus menjadi makanan bagi orang-orang miskin.

Namun, saudara-saudaraku sekalian, beberapa waktu yang lalu media sosial kita dihebohkan dengan sebuah pernyataan yang sangat kontroversial. Sebuah pernyataan yang mengatakan bahwa zakat tidak populer di masa Nabi, dan umat Islam harus “meninggalkan zakat” jika ingin maju. Pernyataan ini viral dan mengundang kegelisahan di tengah masyarakat. Banyak yang bertanya-tanya, benarkah zakat tidak populer di masa Rasulullah? Bagaimana mungkin zakat yang merupakan rukun Islam ditinggalkan demi kemajuan?

Hari ini, di mimbar yang mulia ini, mari kita jadikan momentum Idul Fitri untuk meluruskan kembali pemahaman kita tentang kedudukan zakat dalam Islam. Bukan untuk memperdebatkan siapa yang salah atau benar, tetapi untuk mengembalikan kita semua pada pangkal ajaran agama yang lurus, serta mengambil hikmah dari dinamika yang terjadi.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ ۖ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. At-Taubah: 103)

Perhatikanlah, wahai jamaah sekalian! Dalam ayat ini, Allah menggunakan kata “shadaqah”, namun yang dimaksud oleh para ulama adalah zakat yang wajib. Ini memberikan pelajaran berharga bagi kita bahwa secara bahasa, sedekah memiliki makna yang lebih luas. Ia mencakup sedekah wajib (zakat) dan sedekah sunnah (infak dan sedekah biasa). Al-Qur’an sendiri menggunakan istilah sedekah untuk merujuk pada kewajiban zakat, menunjukkan betapa eratnya keterkaitan antara keduanya, bukan bahwa zakat tidak populer.

Lebih dari itu, zakat menempati posisi yang sangat fundamental. Ia adalah rukun Islam yang ketiga. Rasulullah SAW bersabda:

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ : شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، وَإِقَامِ الصَّلَاةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَالْحَجِّ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ

“Islam dibangun di atas lima perkara: bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, haji, dan puasa Ramadhan.” (HR. Muslim No. 08)

Hadis ini sangat jelas. Zakat disejajarkan dengan shalat. Sebagaimana shalat tidak bisa ditinggalkan, maka zakat pun demikian. Jika ada orang yang meremehkan shalat, maka rusaklah Islamnya. Demikian pula jika ada yang meremehkan zakat, maka guncanglah bangunan keislamannya.

Para ulama, termasuk Majelis Ulama Indonesia, telah memberikan tanggapan atas pernyataan kontroversial tersebut. Mereka menegaskan bahwa narasi “meninggalkan zakat” sangat jelas (shorih) bertentangan dengan syariat Islam yang menjadikan zakat sebagai rukun Islam. Sejarah mencatat, ketika sebagian orang enggan membayar zakat pasca wafatnya Rasulullah, Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq RA dengan tegas memerangi mereka. Ini menunjukkan betapa seriusnya kedudukan zakat dalam Islam, bukan hanya sebagai ibadah individual, tetapi juga sebagai pilar sosial dan kenegaraan.

Jamaah shalat Id yang berbahagia,

Di sisi lain, sedekah sunnah juga memiliki keutamaan yang luar biasa. Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ تَصَدَّقَ بِعَدْلِ تَمْرَةٍ مِنْ كَسْبٍ طَيِّبٍ، وَلَا يَقْبَلُ اللهُ إِلَّا الطَّيِّبَ، فَإِنَّ اللهَ يَتَقَبَّلُهَا بِيَمِينِهِ، ثُمَّ يُرَبِّيهَا لِصَاحِبِهِ كَمَا يُرَبِّي أَحَدُكُمْ فَلُوَّهُ حَتَّى تَكُونَ مِثْلَ الْجَبَلِ

“Barangsiapa bersedekah dengan sebutir kurma dari hasil usaha yang baik—dan Allah tidak menerima kecuali yang baik—maka Allah akan menerimanya dengan tangan kanan-Nya, kemudian mengembangkannya untuk pemiliknya sebagaimana salah seorang dari kalian memelihara anak kudanya hingga (pahala) itu menjadi seperti gunung.” (HR. Muslim)

Bahkan, dalam hadis lain disebutkan bahwa sedekah tidak harus menunggu kaya. Senyum kepada saudara adalah sedekah, menyingkirkan duri dari jalan adalah sedekah, bahkan berhubungan suami istri pun bernilai sedekah. Ini menunjukkan betapa luasnya makna sedekah dalam Islam.

Lalu, bagaimana kita memahami hubungan antara zakat dan sedekah ini dengan tepat? Apakah keduanya saling bertentangan? Ataukah justru saling melengkapi?

Para ulama menjelaskan bahwa zakat dan sedekah memiliki fungsi dan kedudukannya masing-masing. Zakat adalah fondasi, kewajiban yang menjadi hak Allah dalam harta kita. Ia adalah batas minimal kepedulian sosial seorang muslim. Sedekah sunnah adalah bangunan di atas fondasi itu. Ia adalah ekspresi kepedulian yang lebih tinggi, kedermawanan yang melampaui batas kewajiban.

Jika kita mencermati secara utuh apa yang menjadi gagasan di balik pernyataan yang viral tersebut, sebenarnya yang dimaksud adalah ajakan untuk melakukan reorientasi pengelolaan dana umat. Kita tidak boleh berhenti hanya pada zakat. Umat Islam harus bergerak maju dengan mengoptimalkan instrumen filantropi Islam lainnya yang potensinya sangat besar, seperti wakaf, infak, dan sedekah.

Banyak negara, seperti Qatar, Kuwait, dan Uni Emirat Arab, mampu memajukan ekonominya bukan hanya dari zakat, tetapi dari pengelolaan wakaf yang profesional dan produktif. Di sana, kementerian yang menangani wakaf menjadi motor penggerak pembangunan yang sangat masif. Inilah model yang ingin diadaptasi untuk mempercepat kemajuan umat di Indonesia.

Namun, yang perlu kita pahami bersama, inti dari gagasan tersebut bukanlah meninggalkan zakat, melainkan melengkapi zakat. Zakat adalah titik awal (fondasi), sementara sedekah, infak, dan wakaf adalah bangunan di atasnya. Jangan sampai karena ingin membangun lantai dua, kita justru merobohkan fondasinya.

Allah SWT berfirman tentang siapa saja yang berhak menerima zakat:

۞ إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ ۖ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, para amil, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah, dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. At-Taubah: 60)

Lihatlah! Ada delapan golongan yang menjadi sasaran zakat. Ini adalah jaring pengaman sosial yang luar biasa. Zakat adalah solusi konkret untuk mengentaskan kemiskinan dan mengatasi berbagai problem sosial. Sementara itu, sedekah sunnah memiliki cakupan yang lebih luas, tidak terbatas pada delapan golongan, dan tidak terikat dengan nisab maupun haul. Ia bisa diberikan kapan saja, kepada siapa saja, dalam bentuk apa saja, bahkan untuk membantu sesama manusia tanpa melihat latar belakang agama.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Dari dinamika yang terjadi, ada beberapa pelajaran berharga yang dapat kita petik:

Pertama, pentingnya memverifikasi informasi. Di era media sosial, potongan video yang keluar dari konteksnya dapat menimbulkan kesalahpahaman yang meluas. Sebagai umat Islam, kita diperintahkan untuk tabayyun (memeriksa kebenaran) sebelum menyebarkan informasi.

Kedua, para pemimpin dan dai hendaknya lebih berhati-hati dalam menyampaikan narasi keagamaan, terutama yang berkaitan dengan hal-hal yang sudah qath’i (pasti) dalam agama seperti zakat. Pilihan kata dan frase sangat penting agar tidak menimbulkan salah persepsi di tengah umat.

Ketiga, kita patut bersyukur bahwa para ulama dan institusi keagamaan seperti MUI cepat tanggap dalam meluruskan pemahaman umat. Ini menunjukkan bahwa mekanisme kontrol sosial dalam agama kita masih berjalan dengan baik.

Keempat, kita juga patut mengapresiasi ketika ada pihak yang dengan legowo meminta maaf dan meluruskan pernyataannya yang keliru. Ini adalah contoh indah dalam menjaga persatuan umat.

Jamaah yang berbahagia,

Di hari yang fitri ini, mari kita tanamkan dalam hati:

1. Zakat adalah Kewajiban Mutlak. Ia adalah rukun Islam yang tidak boleh ditinggalkan. Menunaikannya adalah bukti keimanan dan ketaatan. Mengabaikannya adalah dosa besar. Mari kita pastikan zakat kita telah ditunaikan dengan benar dan tepat sasaran.
2. Sedekah adalah Pelengkap dan Penyempurna. Setelah menunaikan zakat, pintu sedekah terbuka lebar. Jangan batasi kedermawanan kita hanya pada angka 2,5 persen. Jadikan sedekah sebagai gaya hidup, sebagai ekspresi syukur atas nikmat yang Allah berikan.
3. Wakaf adalah Investasi Abadi. Wakaf adalah instrumen yang bisa menjadi mesin ekonomi umat yang terus berputar pahalanya, bahkan setelah kita mati. Mari kita pelajari dan optimalkan potensi wakaf untuk kemaslahatan bersama.

Allah SWT berfirman:

مَّثَلُ الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَن يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 261)

Semoga Allah SWT menerima amal ibadah kita di bulan Ramadhan, mengampuni segala khilaf kita, dan menjadikan kita semua sebagai hamba-Nya yang dermawan, yang tidak hanya menunaikan kewajiban, tetapi juga berlomba-lomba dalam kebaikan. Wallahu a’lam bish-shawab.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

[KHUTBAH KEDUA]

اَللهُ أَكْبَرُ (٣×)، اَللهُ أَكْبَرُ (٣×). اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا، لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ. لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ

الْحَمْدُ لِلّٰهِ نَحْمَدُهُ عَلىَ نِعَمِهِ الَّتِى لاَتُحْصَى وَلاَ تُحْصَرُ، وَنَشْكُرُهُ عَلىَ فَضْلِهِ وَإِحْسَانِهِ وَحَقٌّ لَهُ أَنْ يُشْكَرَ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ الْبَرُّ الرَّحِيمُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، الْمَنْعُوتُ بِالْخُلُقِ الْعَظِيمِ. صَلَّى اللَّهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ أَفْضَلَ الصَّلَاةِ وَالتَّسْلِيمِ

أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللهِ، اتَّقُوْا اللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالىَ، وَعَظِّمُوْا أَمْرَهُ وَاجْتَنِبُوْا نَهْيَهُ، وَاعْلَمُوْا أَنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ أَتْقَاكُمْ. وَاتَّقُوْا يَوْمًا تُرْجَعُوْنَ فِيْهِ إِلَى اللّٰهِ ثُمَّ تُوَفَّى كُلُّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُوْنَ

ثُمَّ اعْلَمُوْا أَنَّ اللّٰهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فقَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللّٰهَ وَمَلَآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِى، يَآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلٰيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اَلْاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. اَللّهُمَّ أَعِزَّ الْاِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيْن وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ. وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاَعْلِ كَلِمَاتِكَ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

اَللّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ

اَللّهُمَّ أَصْلِحْ لَنا دِيْنَنَا الَّذِيْ هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِيْ فِيْهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِيْ فِيْهَا مَعَادُنَا، وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِيْ كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ. اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُلُوبِنَا وَأَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا، إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

اَللّهُمَّ حَبِّبْ إلَيْنَا الْإيمَانَ وَزَيِّنْهُ فِي قُلُوْبِنَا وَكَرِّهْ إِلَيْنَا الْكُفْرَ وَالْفُسُوْقَ وَالْعِصْيَانَ. وَاجْعَلْنَا مِنَ الرَّاشِدِيْنَ. رَبَّنا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرْ

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed