Lima Tingkatan Pahala Sedekah

Mohammad Nor Ichwan

KHUTBAH PERTAMA

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ، اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ، وَبِفَضْلِهِ تَتَنَزَّلُ الْبَرَكَاتُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الصَّادِقُ الْوَعْدِ وَالْأَمِيْنُ

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kepada kita nikmat iman, Islam, dan kesehatan sehingga kita bisa berkumpul di rumah-Nya yang mulia ini. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Baginda Nabi Muhammad SAW, keluarga, dan para sahabatnya.

Pada kesempatan yang penuh berkah ini, khatib berwasiat kepada diri sendiri dan jamaah sekalian, Marilah kita senantiasa meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya taqwa. Salah satu bukti ketaqwaan seorang hamba adalah kepeduliannya terhadap sesama melalui ibadah sedekah. Sedekah bukan hanya sekadar memberi, tapi ia adalah investasi akhirat yang pahalanya berlipat ganda. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً

“Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak.” (QS. Al-Baqarah: 245)

Sidang Jumaat yang dimuliakan Allah,

Dalam kitab Nashoihul Ibad, Syekh Nawawi al-Bantani menukil keterangan dari Imam As-Suyuthi tentang bagaimana Allah melipatgandakan pahala sedekah berdasarkan kepada siapa sedekah itu diberikan. Beliau menyebutkan:

ذَكَرَ السُّيُوطِيُّ أَنَّ ثَوَابَ الصَّدَقَةِ خَمْسَةُ أَنْوَاعٍ

“Imam As-Suyuthi menyebutkan bahwa pahala sedekah itu ada lima macam:”

Pertama, وَاحِدَةٌ بِعَشَرَةٍ، وَهِيَ عَلَى صَحِيحِ الْجِسْمِ “Satu dibalas sepuluh, yaitu bersedekah kepada orang yang sehat badannya.”

Ini adalah tingkatan dasar. Jika ada tetangga kita sehat, kuat bekerja, lalu kita beri dia makanan, kita tetap dapat pahala 10 kali lipat. Mengapa “hanya” 10? Karena secara logika, tanpa bantuan kita pun dia masih bisa berupaya. Namun, sedekah ini tetap mulia karena menjaga tali persaudaraan dan mencegahnya dari rasa lapar.

Kedua, وَوَاحِدَةٌ بِتِسْعِينَ، وَهِيَ عَلَى الْأَعْمَى وَالْمُبْتَلَى “Satu dibalas sembilan puluh, yaitu bersedekah kepada orang buta dan orang yang tertimpa musibah.”

Imam As-Suyuthi menyebutkan golongan orang buta atau orang yang diuji dengan sakit/cacat. Di sini pahalanya melonjak menjadi 90 kali lipat. Kenapa? Karena mereka memiliki “hambatan” untuk mencari nafkah sendiri. Sedekah Anda di sini berfungsi sebagai penyambung hidup. Anda hadir di saat mereka benar-benar merasa lemah dan tidak berdaya.

Ketiga, وَوَاحِدَةٌ بِتِسْعِمِائَةٍ، وَهِيَ عَلَى ذِي قَرَابَةٍ مُحْتَاجٍ “Satu dibalas sembilan ratus, yaitu bersedekah kepada kerabat (saudara) yang membutuhkan.” Hal ini sejalan dengan hadis Nabi SAW: الصَّدَقَةُ عَلَى الْمِسْكِينِ صَدَقَةٌ، وَهِيَ عَلَى ذِي الرَّحِمِ ثِنْتَانِ: صَدَقَةٌ وَصِلَةٌ “Sedekah kepada orang miskin pahalanya satu, sedangkan sedekah kepada kerabat pahalanya dua: pahala sedekah dan pahala silaturahmi.” (HR. Tirmidzi).

Banyak dari kita rajin sedekah ke panti asuhan yang jauh, tapi lupa bahwa adik kandung kita sendiri sedang kesulitan membayar sekolah anaknya. Atau kita sibuk menyumbang ke luar kota, padahal sepupu kita sedang dikejar utang untuk biaya berobat. Allah memberikan pahala 900 kali lipat karena ada dua ibadah yang menyatu: sedekah dan silaturahmi. Sedekah kepada orang lain hanya menghilangkan lapar, tapi sedekah kepada saudara menghapus luka di hati mereka dan mempererat ikatan darah.

Keempat, وَوَاحِدَةٌ بِمِائَةِ أَلْفٍ، وَهِيَ عَلَى الْأَبَوَيْنِ “Satu dibalas seratus ribu, yaitu bersedekah (berderma) kepada kedua orang tua.”

Bakti harta kepada orang tua menempati kedudukan yang sangat tinggi, melampaui sedekah kepada orang lain karena jasa mereka yang tak terbalas.

Angkanya melonjak drastis menjadi seratus ribu kali lipat. Mengapa setinggi itu? Karena orang tua adalah “pintu surga” yang paling tengah. Harta yang kita berikan kepada orang tua bukan lagi sekadar bantuan, melainkan bentuk Birrul Walidain (bakti). Sedekah kepada orang tua adalah investasi paling berkah. Jika Anda ingin rezeki lancar seperti air mengalir, jangan pernah pelit kepada orang tua. Bahkan dalam Islam, harta anak adalah milik ayahnya juga.

Kelima, وَوَاحِدَةٌ بِسَبْعِمِائَةِ أَلْفٍ، وَهِيَ عَلَى عَالِمٍ أَوْ فَقِيهٍ “Satu dibalas tujuh ratus ribu, yaitu bersedekah kepada orang alim atau ahli fiqih (Ulama).”

Inilah tingkatan tertinggi. Mungkin orang awam bertanya: “Kenapa memberi Kyai atau guru ngaji pahalanya paling besar, melebihi orang tua?” Mari kita gunakan nalar yang jernih. Orang tua adalah perantara kita lahir ke dunia, namun guru dan ulama adalah perantara kita mengenal Allah. Tanpa guru, kita tidak bisa shalat, tidak tahu mana halal-haram, dan mungkin tersesat di dunia maupun akhirat.

Sedekah kepada ulama (Kyai/Guru) disebut sebagai sedekah intelektual dan spiritual. Uang yang Anda berikan kepada seorang Kyai mungkin digunakan untuk operasional pesantren, membeli kitab, atau menjamu tamu yang ingin belajar agama. Artinya, harta Anda menjadi bahan bakar dakwah. Selama ilmu itu diajarkan dan diamalkan oleh santri-santrinya, pahalanya tidak akan putus meski Anda sudah wafat. Inilah sedekah yang paling strategis karena dampaknya luas bagi umat.

Jamaah yang berbahagia,

Semoga dengan memahami tingkatan ini, kita bisa lebih bijak dalam menyalurkan harta kita. Jangan sampai kita mengejar pahala sedekah di luar, namun mengabaikan orang tua dan kerabat sendiri, atau melupakan jasa para guru dan ulama yang telah membimbing ruhani kita.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ تَعَالَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، فَقَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed