اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْجَنَّةَ جَزَاءً لِلْمُتَّقِيْنَ، وَجَعَلَ النَّارَ عَذَابًا لِلْكَافِرِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah,
Pada kesempatan yang berbahagia ini, khatib mengajak diri khatib pribadi dan seluruh jamaah untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Takwa adalah bekal terbaik untuk menghadapi hari di mana tidak ada yang bisa menolong kecuali amal saleh.
Hadirin rahimakumullah,
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an Surah An-Nisa’ ayat 56:
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِنَا سَوْفَ نُصْلِيهِمْ نَارًا كُلَّمَا نَضِجَتْ جُلُودُهُمْ بَدَّلْنَاهُمْ جُلُودًا غَيْرَهَا لِيَذُوقُوا الْعَذَابَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَزِيزًا حَكِيمًا
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak Kami akan memasukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus terbakar, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, agar mereka merasakan azab yang pedih. Sungguh, Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”
Ayat ini mengandung peringatan yang sangat keras bagi siapa pun yang mendustakan ayat-ayat Allah. Mari kita renungkan bersama makna-makna mendalam dari ayat ini agar kita dapat mengambil pelajaran dan menjauhkan diri dari sikap ingkar.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Pertama, ayat ini berbicara tentang “orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Kami.” Yang dimaksud dengan ayat-ayat Allah bukan hanya Al-Qur’an, tetapi juga tanda-tanda kekuasaan Allah di alam semesta ini. Orang yang kafir adalah mereka yang menolak kebenaran setelah kebenaran itu datang dengan jelas. Mereka menutup mata, hati, dan telinga dari petunjuk Ilahi.
Kekufuran bukan hanya pengingkaran secara lisan, tetapi juga sikap sombong yang menolak tunduk kepada perintah Allah. Mereka melihat bukti-bukti keesaan dan kekuasaan Allah, namun tetap bersikeras dalam kesesatan.
Kedua, Allah mengancam mereka dengan “Kami akan memasukkan mereka ke dalam neraka.” Neraka adalah tempat yang penuh dengan api yang menyala-nyala, tempat yang paling mengerikan. Api neraka berkali-kali lipat lebih panas dari api dunia yang kita kenal. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Api kalian di dunia ini adalah satu bagian dari tujuh puluh bagian api neraka.” (HR. Muslim).
Ketiga, yang paling mengerikan adalah ketika Allah berfirman: “Setiap kali kulit mereka hangus terbakar, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain.” Ini menunjukkan bahwa azab neraka bukanlah azab sekali selesai. Ketika kulit manusia terbakar hangus dan habis, Allah menggantinya dengan kulit baru yang utuh, segar, dan lebih peka terhadap rasa sakit. Mengapa? “Agar mereka merasakan azab yang pedih.” Mereka tidak akan mati, tidak akan hilang kesadarannya, justru mereka akan terus merasakan sakit tanpa henti. Ini adalah bentuk keadilan Ilahi bagi mereka yang telah mendustakan Tuhan mereka.
Jamaah shalat Jum’at yang berbahagia,
Ada hikmah besar di balik penyebutan kulit dalam ayat ini. Para ulama menjelaskan bahwa kulit adalah organ tubuh yang paling peka terhadap rasa sakit. Setelah terbakar, kulit mati dan hilang rasa sakitnya. Maka Allah menggantinya dengan kulit baru agar rasa sakit itu kembali terasa. Ini menunjukkan betapa sempurna kekuasaan Allah dan betapa pedihnya azab yang disiapkan.
Ayat ini ditutup dengan penyebutan dua nama agung Allah: “Sungguh, Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” Allah Mahaperkasa (‘Aziz) artinya tidak ada yang dapat melemahkan-Nya. Tidak ada yang bisa menghindar dari siksaan-Nya. Dan Allah Mahabijaksana (Hakim) artinya semua yang Dia lakukan adalah penuh keadilan dan kebijaksanaan. Tidak ada kezaliman sedikit pun dalam azab yang Dia berikan. Mereka layak menerimanya karena perbuatan mereka sendiri.
Ma’asyiral Muslimin,
Jika azab begitu mengerikan bagi mereka yang kufur, maka bagaimana dengan kita? Kita yang mengaku beriman, sudahkah kita benar-benar beriman kepada ayat-ayat Allah? Sudahkah kita menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup? Ataukah kita juga termasuk orang-orang yang membaca ayat-ayat Allah namun tidak mengamalkannya?
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sebagian besar penghuni neraka adalah orang-orang yang memiliki dua jari (kaya dan sombong).” (HR. Bukhari dan Muslim). Jangan sampai kekayaan, jabatan, atau kesombongan menjadikan kita lalai dari mengikuti kebenaran.
Marilah kita introspeksi diri. Apakah kita masih menganggap remeh shalat? Apakah kita masih melanggar larangan-larangan Allah? Apakah kita masih menyepelekan dosa-dosa kecil? Ingatlah bahwa semua itu bisa menjadi jalan menuju kekufuran jika terus dilakukan tanpa tobat.
Hadirin yang dimuliakan Allah,
Dalam hidup ini, kita diberikan pilihan. Allah telah menjelaskan jalan yang lurus dan jalan yang sesat. Allah telah menunjukkan bukti-bukti kekuasaan-Nya. Maka, hanya orang-orang yang beruntunglah yang akan mengambil pelajaran. Mereka yang bersegera bertaubat, memperbaiki amal, dan menjadikan Al-Qur’an sebagai imam dalam kehidupan.
Sebagai penutup khutbah pertama ini, marilah kita renungkan firman Allah dalam Surah Ali Imran ayat 133:
وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.”
Semoga Allah menyelamatkan kita dari siksa neraka dan memasukkan kita ke dalam surga-Nya. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ






